Stuxnet pertama kali ditemukan pada Juni 2010 oleh perusahaan keamanan asal Belarus. Sejak saat ini worm
tersebut menjadi begitu populer lantaran dapat memantau sekaligus memprogram ulang sistem yang banyak dipakai oleh industri.
Stuxnet memang relatif berbeda dengan program jahat lainnya. Dampak serangan yang dihantarkan tidak seperti virus lain -- seperti Conficker misalnya -- yang bisa membuat komputer hang atau memakan memory komputer. Komputer yang terinfeksi Stuxnet seakan bekerja seperti biasa, tidak ada sesuatu yang aneh. 'Cacing' ganas ini baru bekerja ketika mendeteksi ada sistem "Supervisory Control And Data Acquisition" (SCADA) yang menjalankan sistem untuk reaktor nuklir khususnya alat bikinan Iran.
Seandainya sistem nuklir Iran benar-benar kena serangan dan Stuxnet tidak terdeteksi maka tanpa sadar uranium yang dihasilkan fasilitas nuklir Iran diyakini akan menurun drastis yang mengakibatkan kerugian besar karena energi yang dihasilkan misalnya untuk pembangkit listrik jadi turun dan bila digunakan untuk senjata akan menjadi tidak memenuhi standar.